Artikel NLP Analogue Marking

Artikel NLP Analogue Marking kali ini akan saya jelaskan dengan saya awali melalui anekdot agar nantinya dapat lebih mudah untuk memahami dan mengaplikasikan.

# # # # #

“Dik, aku mau pergi ke bengkel untuk servis motor”, pamit Pairun kepada istrinya.

“Baik, mas. Tapi jangan lama-lama lho yaa??” sahut istri Pairun setengah mengancam.

Sesampai di bengkel sembari menunggu giliran untuk servis motornya, Pairun meluangkan waktu dengan membaca majalah otomotif kegemarannya. Baru 5 lembar halaman majalah itu dibaca, tiba-tiba ada suara merdu memanggilnya : “Mas Pairun, yaa?”

Bak habis menelan halilintar Pairun’pun mencari sumber suara itu dan seketika didapati seorang cewek cantik yang sedang berjalan menghampirinya.

Sambil tertegun menatap cewek tersebut akhirnya dengan suara parau karena belum habis rasa terkejutnya, Pairun’pun menjawab : ”Betul!!.. Eh, kamu Jumiyati yaa?.. Teman saya waktu SMP dulu, yaa? Tepatnya kamu ini adik kelasku, khan?” sergah Pairun seperti seorang penyelidik.

“Betul, mas?.. Mas Pairun kok nggak berubah wajahnya, ya?” timpal si cewek yang ternyata memiliki nama Jumiyati.

Sambil nyengir Pairun menjawab : “Maksudmu nggak berubah jeleknya ya, Jum?”

Sejurus kemudian mereka berdua terlibat pembicaraan yang serius dalam mengenang masa-masa waktu sekolah dulu. Sepertinya saat itu Pairun sedang mengalami regresi tingkat tinggi mengenang masa-masa SMP yang terbukti dengan meski motor mereka berdua sudah selesai diservis, Pairun’pun masih saja ngotot ingin melanjutkan adegan ngobrol dengan mulai kreatif mengajak Jumiyati makan sea food.

Setelah ngobrol panjang lebar sebelum, selama, dan sesudah makan dengan menu udang bakar dan kepiting asam manis, tanpa terasa waktu sudah sore hari dan Pairun’pun mulai tersadar bahwa dia sudah melanggar aturan emas dengan istrinya untuk tidak terlalu lama pergi.

“Jum, aku pulang dulu yaa.. Nanti kapan-kapan kita lanjut lagi ngobrolnya”, kata Pairun.

“Okay, mas Pairun.. Sampai ketemu lagi, yaa”, sahut Jumiyati.

Sesampainya di rumah, istri Pairun ternyata sudah siap berdiri di depan pintu dengan wajah yang jelas bukan menunjukkan rasa bersahabat, yang terbukti dengan adanya pertanyaan :“Dari mana saja, mas?.. Memang servis motornya ke Inggris?”   

“Begini lho, dik.. Tadi waktu di bengkel aku ketemu dengan cewek cantik yang tidak lain adalah adik kelasku dulu waktu SMP”, jawab Pairun sambil membaui tangannya sendiri yang ternyata masih meninggalkan aroma sehabis makan sea food.

Melihat gelagat suaminya yang agak aneh, istri Pairun’pun langsung meng-ultimatum Pairun sambil berkata : “Halaahhh.. Jangan bohong, mas!!.. Coba sini aku bau tanganmu!!”..

Seketika meledaklah kemarahan istri Pairun :”Kamu itu memang nggak bisa dipercaya, mas!!.. Bisa-bisanya ngarang cerita ketemu cewek pakai diajak makan segala!!.. Pokoknya awas kalau lain kali sampai mampir-mampir lagi ke tempat pemancingan ikan!!”

# # # # #

Artikel NLP Analogue MarkingSetiap bentuk komunikasi interpersonal yang kita lakukan pada dasarnya terdiri dari komunikasi verbal dan non-verbal. Untuk komunikasi verbal diwakili oleh adanya struktur susunan dari kata yang membentuk kalimat, sedangkan non-verbal dapat dimaknai melalui struktur adanya gerakan bahasa tubuh maupun intonasi. Seberapa besar masing-masing struktur tersebut mempunyai peranan dalam kaitannya dengan komunikasi? Ada sebuah studi yang mengatakan bahwa komunikasi yang kita lakukan akan diterima oleh lawan bicara dengan pola sebagai berikut :

–        7 % kata-kata

–        38 % intonasi

–        55 % bahasa tubuh

Dari penjelasan tersebut di atas dapat diketahui seberapa besar sebetulnya pengaruh setiap struktur komunikasi dalam mewakili pesan yang ingin kita sampaikan kepada orang lain yang akan dimaknai oleh lawan bicara. Sebagai contoh jika saya mengatakan : “Es jeruk nipis yang saya minum ini terasa sangat masam sekali”. Ketika saya mengucapkan kalimat tersebut secara datar layaknya membaca surat kabar maka mana kalimat tersebut seolah hanya sebagai sebuah informasi. Menjadi berbeda makna kalimat tersebut bagi lawan bicara dan bahkan mungkin akan mempengaruhi secara psikologis jika saya menyampaikannya dengan intonasi tertentu serta bahasa tubuh yang menggambarkan bagaimana rasa masam dari es jeruk nipis tersebut. Dari contoh sederhana tadi sedikitnya akan diperoleh gambaran tentang kekuatan dari penggunaan kombinasi pola kata-kata, intonasi, dan bahasa tubuh yang dapat kita lakukan dalam proses komunikasi.

Dengan mengetahui komposisi itu pula sesungguhnya kita dapat melakukan “utilisasi” atas ketiga strukturnya untuk kita gunakan dalam strategi komunikasi persuasi. Untuk itu mari sedikit bermain-main sejenak untuk mulai membayangkan ada seseorang di depan Anda sedang bercerita dan memulai ceritanya dengan mengatakan :

“Sejak kecil saya sudah memiliki kegemaran dalam hal menggambar. Menariknya adalah saya selalu memilih dalam menggunakan alat gambar maupun alat warna ketika menggambar. Saya paling suka menggunakan spidol. Meski sering saya mendapati tangan saya yang penuh dengan beraneka ragam warna ketika selesai menggambar, bagi saya spidol adalah favorit sebagai alat gambar dan mewarna. Bahkan tidak jarang orang tua saya menghukum dengan menyita spidol-spidol saya karena sudah cukup banyak korban seragam sekolah saya yang penuh dengan coretan warna”

Melalui cerita singkat di atas mungkin ada sekilas gambaran mengenai seorang anak yang suka menggambar dengan penuh coretan spidol di tangan bahkan di seragam sekolahnya. Dengan membaca cerita di atas seolah pikiran kita diajak untuk membuat rangkaian gambaran yang membentuk sebuah realita. Ketika pikiran sadar kita sibuk merespon cerita yang disampaikan orang tersebut pernahkah kita menyadari bahwa dalam satu kesempatan tertentu si pencerita mungkin saja membuat gerakan seperti gerakan tangan, gerakan alis mata, perubahan intonasi, bahkan mungkin melakukan perubahan posisi tubuh ketika bercerita? Dapat dikatakan di balik kata-kata lewat cerita yang disampaikannya sebetulnya terdapat pesan yang entah sengaja maupun tidak telah disematkan oleh pencerita kepada lawan bicara.

Inilah salah satu “peluang” yang dapat kita gunakan dalam melakukan teknik komunikasi persuasi. Dengan melakukan gerakan tubuh yang sengaja kita buat serta penggunaan intonasi tertentu maka diharapkan kita dapat melakukan “utilisasi” untuk tujuan menyampaikan sebuah pesan yang persuasif. Sebagai contoh yang dapat kita gunakan dalam melakukan utilisasi pada struktur komuniksi bahasa tubuh dan intonasi adalah ketika anda bisa mengatakan kepada lawan bicara anda sebuah kalimat seperti berikut : “Anda telah menemukan teman yang tepat untuk curhat”. Memang meskipun ketika kalimat tersebut diucapkan secara “datar”, kalimat tersebut tetaplah memiliki arti. Akan tetapi jika kalimat yang sama seperti di atas dan diucapkan dengan intonasi yang tepat dengan menambahkan sebuah pesan lewat bahasa tubuh seperti berikut :

–        “Anda ..” : dengan menunjuk lawan bicara.

–        “ .. telah menemukan teman yang tepat ..” : dengan menunjuk diri sendiri dan dapat ditambah dengan tatapan mata dan senyuman serta intonasi yang tepat.

–        “.. untuk curhat” : dengan melakukan gerakan tubuh seperti sedang bersandar atau yang lainnya.

Dengan menyampaikan pesan seperti penjelasan di atas setidaknya akan lebih lengkap ketika kita melakukan sebuah bentuk komunikasi untuk dapat diterima secara sadar maupun pada tingkat bawah sadar. Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi jika kemudian setiap pesan “positif” tentang diri anda selalu anda gunakan bahasa tubuh seperti menunjuk diri anda sendiri secara berulang-ulang?

Strategi komunikasi inilah yang disebut dengan Analogue Marking. Jika boleh diterjemahkan secara bebas Analogue Marking adalah penggunaan komunikasi Non-verbal melalui bahasa tubuh maupun intonasi yang bertujuan untuk memberi “tanda” kepada lawan bicara untuk memaknai sebuah pesan agar sesuai dengan yang apa diinginkan oleh seorang komunikator.

Nah, menimbang keberadaan Analogue Marking, perlu kiranya sedikit mencermati mengenai Analogue Marking apa sajakah yang sudah kita lakukan terutama yang kita buat secara tidak sengaja yang dapat memicu sebuah pesan bagi bagi orang lain? Atau justru kita sendiri yang secara “lancang” memaknai Analogue Marking yang dilakukan oleh orang lain yang kemungkinan besar juga tanpa sadar telah dibuatnya.

Mungkin dari tulisan tentang Analogue Marking ini akan timbul pertanyaan atau tepatnya “protes” tentang seberapa besarkah sebetulnya pengaruh dari pesan yang kita terima tanpa kita sadari terhadap diri kita lewat Analogue Marking? Menjawab pertanyaan ini marilah kita melirik sebentar dalam kejadian sehari-hari tentang keberadaan iklan, baik media cetak, media luar ruang, radio maupun televisi. Begitu banyak Analogue Marking yang tentunya sudah kita “peroleh” dari keberadaan iklan tersebut. Mungkin bentuk “protes” berikutnya akan seperti ini : “Khan, belum tentu juga saya membeli produk dari iklan tersebut?”.. Yupp!!.. Memang benar. Tapi ketika Anda melihat gambar seorang koboi yang sedang menunggang kuda apakah realita sesungguhnya dari pesan tersebut yang ada di benak anda?

Keberhasilan kecil sebuah bentuk persuasi adalah adanya persetujuan dari komunikan yang diberikan oleh seorang komunikator. Persetujuan bisa saja hanya berupa kesamaan dalam melihat realita dari sebuah pesan yang disampaikannya. Jika persetujuan tersebut berkembang menjadi sebuah tindakan atau perilaku maka itulah sebetulnya tujuan akhir yang diinginkan oleh seorang komunikator yang persuasif.

Keberhasilan dalam melakukan strategi komunikasi persuasi lewat penggunaan Analogue Marking adalah terletak pada seberapa “telaten” kita menyemai Analogue Marking yang kita buat.

Selamat menciptakan Analogue Marking dalam melakukan persuasi!!.

Jika ada yang kurang berkenan dengan tulisan ini, saya mewakili atas nama : Pairun dan istri serta Jumiyati mohon maaf .. 

Salam berbagi,

Totok PDy

Pin It on Pinterest

Shares
Share This