Artikel NLP Membangun Perilaku Bisnis

Artikel NLP membangun perilaku bisnis ini dapat menjadi referensi bagi anda yang ingin memulai mempersiapkan diri sebagai seorang pebisnis :

artikel nlp membangun perilaku bisnis Siapa sih yang tidak ingin memiliki usaha bisnis sendiri? Bahkan banyak sekali literatur buku serta tulisan-tulisan yang seolah memberikan ajakan agar seseorang mau memulai sebuah bisnis alih-alih hanya sebagai karyawan yang bekerja dengan orang lain. Begitu banyak sisi positif yang ditawarkan bagi mereka yang ingin menggeluti sebuah langkah baru dalam memulai usaha sendiri. Mulai dari ketersediaan waktu luang yang lebih banyak serta jaminan untuk memiliki penghasilan yang jauh lebih baik dari sekedar menjadi pegawai atau karyawan (padahal belum tentu benar juga.. heuheuheu).

Berbagai iming-iming inilah yang seolah-olah bagai mendapat tawaran impian indah yang menggerakkan orang untuk mau berbondong-bondong sibuk memikirkan pilihan bisnis apa yang akan digeluti serta bagaimana cara-cara pencapaiannya. Dari kesemuanya bahkan sampai ada orang yang rela berinvestasi secara membabi buta untuk memulai sebuah usaha dengan mengeluarkan dana dari koceknya sendiri dengan nominal yang tidak sedikit.

Okay, benar sekali jika Anda mengatakan : “Bukankah kalau mau berbisnis perlu modal?” Tidak dipungkiri memang bahwa semua bisnis dimulai dengan adanya modal. Namun modal tidak berarti melulu harus berupa uang, bukan? Modal dapat berupa jaringan atau relasi, watu, pengetahuan, atau mungkin juga ketrampilan. Jika memang uang sebagai satu-satunya yang harus ada untuk memulai sebuah usaha, belum tentu pula bahwa uang tersebut harus berasal dari dompet kita sendiri. Karena di luar sana justru banyak orang yang punya banyak uang namun sebaliknya masih bingung akan dikelola seperti apakah uangnya tersebut.

Masih dalam tulisan bersambung ini, kali inipun saya tidak akan membahas tentang fenomena dunia bisnis dari sisi teknis melainkan dari sisi yang lain : sisi fundamental secara psikologis. Hal ini bagi saya perlu menjadi pertimbangan utama ketika kita ingin memulai sebuah bisnis dikarenaka sisi “fundamental” secara psikologis-lah yang akan mampu menggerakkan seseorang untuk berbisnis agar menjadi sebuah perilaku baru yang melekat dalam diri kita..

Kembali perlu saya sampaikan bahwa perilaku sebagai seorang pebisnis tidak ubahnya seperti perilaku yang saat ini melekat dalam diri kita entah sebagai siapapun diri kita saat ini. Artinya adalah untuk menjadi seorang pebisnis diperlukan sebuah program perilaku baru yang nantinya dapat bekerja secara permanen dan bukan atas dasar pilihan sebuah sikap yang bersifat sementara saja dan sekaligus dapat berlaku secara otomatis lewat segala bentuk perilaku kita nantinya.

Jika saat ini Anda masih menyandang sebagai seorang karyawan artinya secara program perilaku (khususnya mental), Anda telah memiliki sebuah program default yang berbeda dengan seorang pebinis dalam kaitannya dengan mengambil segala keputusan yang berkaitan dengan hidup Anda terutama khususnya dari sisi finansial. Seorang pebisnis akan memiliki cara pandang dalam hal keuangan (atau mungkin juga peluang) yang berbeda dengan seorang karyawan.

Untuk itulah sekali maka saya mengetengahkan sebuah topik yang lebih banyak mengulas dari sisi fundamental psikologis dibandingkan sisi teknisnya. Kembali perlu saya tekankan bahwa perilaku bukanlah sesuatu yang berlaku secara acak. Perilaku tak ubahnya seperti sebuah program komputer yang bekerja dikarenakan adanya sesuatu yang lain yang pada awalnya disematkan.

artikel nlp membangun perialku bisnisJika menggunakan istilah dalam NLP, maka apabila seseorang sudah mampu memiliki sebuah perilaku baru yang dapat bekerja layaknya sebuah program yang bersifat otomatis, disebut sebagai sebuah perilaku yang memiliki kadar kompetensi. Artinya perilaku tersebut tidak perlu dilakukan sebuah “perintah” baru lagi dalam berpikir secara sadar agar dapat bekerja, melainkan beroperasi dalam level pikiran bawah sadarnya.

Melalui rumusan yang terdapat pada NLL (Neuro-Logical Levels) maka di tahapan Belief atau Value inilah sebuah kompetensi dari suatu perilaku dapat bekerja dengan cara otomatis seperti yang sebutkan di atas. Sebelum nanti kita akan bahas mengenai cara dalam meng-install program pada level Belief atau Value, maka perlu saya jelaskan tentang apa itu yang dimaksud dengan Belief atau Value ini.

  • Belief adalah hal yang diyakini oleh seseorang dalam memandang dirinya serta terhadap dunia luar pada sebuah tema tertentu.
  • Value adalah hal apa yang dianggap penting yang berhubungan dengan Belief yang dianutnya.

Catatan : Penjelasan secara lebih rinci tentang keberadaan beberapa tahapan dalam NLL termasuk Belief dan Value dapat dibaca pada tulisan saya di sini.

Sesuai dengan apa yang saya janjikan tentang bagaimana cara meng-install sebuah perilaku lewat tahapan Belief maupun Value berkaitan dengan keinginan kita untuk memiliki perilaku baru sebagai seorang pebisnis adalah dengan mempertanyakan kepada diri kita sendiri lewat pertanyaan yang sederhana.

Pola pertanyaannya adalah sebagai berikut :

  • Mengapa menjadi seorang pebisnis itu penting bagi saya? Jika Anda sudah mendapatkan sebuah jawaban, pertanyakan kembali atas jawaban tersebut dengan pertanyaan yang sama :
  • Mengapa …….. itu penting bagi saya? Jika masih ada jawaban, maka pertanyakan lagi jawaban itu dengan pertanyaan yang sama pula, hingga Anda merasa kesulitan untu mendapatkan jawabannya lagi.

Apa arti dan tujuan kita mempertanyakan kepada diri kita sendiri dengan pola pertanyaan seperti ini? Dengan menggunakan pertanyaan seperti ini sebetulnya kita tanpa sadar akan diajak untuk menggali ke dalam diri kita atau lebih tepatnya mengakses data yang ada dalam diri kita berkaitan dengan siapa diri kita selama ini.

Dari jawaban terakhir (menurut Anda) yang tidak mungkin untuk dapat dipertanyakan lagi inilah sebetulnya dasar dari Belief Anda ketika ingin melakukan sebuah perubahan perilaku sebagai seorang pebisnis.

Sekedar sebagai contoh : Saya dalam menginstall sebuah Belief dalam kaitannya dengan dunia bisnis yang saya geluti hingga saat ini adalah dengan cara seperti di atas dan menemukan sebuah jawaban yang memang selaras dengan apa yang saya inginkan dulu pada saat saya ingin memulai sebuah aktivitas dalam dunia bisnis, yaitu : saya ingin memiliki banyak waktu bebas serta punya banyak uang.

Dari jawaban itulah (dan karena saya juga merasa nyaman dengan jawaban ini bahkan mampu membuat gambaran yang jelas di benak saya), maka saya lebih banyak bersinggungan dengan dunia bisnis dimana saya merasa nyaman untuk menekuni bisnis yang sesuai dengan Belief saya. Selain itu, saya juga lebih banyak menaruh perhatian kepada hal-hal yang saya anggap penting yang mendukung Belief saya tersbut. Hal yang anggap penting inilah yang disebut sebagai Value.

Dari penjelasan ini pula maka tidaklah menjadi heran akan jawaban dari pertanyaan mengapa ada seseorang yang sangat tekun dan setia dengan bidang pekerjaan yang digelutinya disamping juga seringkali banyak kita jumpai adanya orang-orang yang begitu cepat putus asa dan berhenti dalam menjalankan usahanya. Hal ini jika kita uraikan lebih jauh sebetulnya yang terjadi adalah orang yang tekun dapat dikatakan sudah menemukan Belief yang tertanam dalam dirinya dan terlebih merasa nyaman dengan Belief yang dianutnya. Jika sebuah Belief sudah tertanam dalam diri seseorang maka akan lebih bersifat permanen dalam menggerakkan perilaku seseorang serta membawa seseorang untuk mampu berpikir tentang cara teknisnya dalam kaitannya dengan konteks dunia bisnis.

Atas dasar inilah maka di awal tulisan ini saya mengatakan bahwa fundamental psikologis (yang sekarang kita namakan sebagai Belief) adalah landasan yang paling utama ketika kita ingin memulai mengambil sebuah keputusan dalam berbisnis dari pada mengetengahkan terlebih tentang cara berpikir akan pilihan bisnis apa dan bagaimana caranya.

Semoga memberi tambahan manfaat dan selamat berbisnis !!

Salam,

Totok PDy