Artikel NLP Outcome

Artikel NLP Outcome kali ini akan saya awali dengan sebuah anekdot untuk lebih memahami pengertian tentang Outcome.

Di salah satu sudut keramaian sebuah pasar ada 3 (tiga) orang anak muda yang sedang berkumpul. Mereka masing-masing bernama : Binu, Banu, dan Benu. Ketika mereka bertiga sedang asik berbincang-bincang, ada suara yang berasal tidak jauh dari tempat mereka duduk : “Krrrooossssaakk… Buuukkkkkkhhh!!..” Segeralah mereka bertiga menghampiri datangnya suara itu dan terkejutlah mereka setelah melihat ada sebuah botol sebesar botol kecap yang warnanya sudah sangat kusam dengan tutup gabus di ujungnya.

Binu yang selalu memiliki rasa ingin tahu segera meraih botol itu dan dengan perasaan yang curiga dan agak-agak setengah penasaran membuka sumbat gabus di botol tersebut dan tampaklah asap putih yang pekat keluar dan terdengarlah suara yang cukup menggelegar : “Wahai anak muda, aku ini adalah Jin Botol.. Masing-masing dari kalian bertiga boleh mengajukan satu permintaan yang pasti aku kabulkan.”

“Wah, bener nih?” tanya Binu seolah tidak percaya.

“Ayo Binu, kamu dulu yang mengajukan permintaan. Setelah itu aku dan berikutnya Benu” komentar Banu bak arsitek pengatur serangan sepak bola. Dan seperti ter-hipnotis Binu dan Benu pun mengangguk berbarengan.

Binu yang punya cita-cita ingin menjadi seorang juragan beras segera mengajukan permintaan : “Aku ingin punya 2 (dua) stand toko beras yang ramai pembeli.” Dan : Wuuusssshhh.. Asap pekat menyelimuti dan.. Toko Beras “Binu Punel” sudah tampak di hadapannya.

Banu yang memiliki keinginan sejak dari kecil ingin menjadi Kepala PD Pasar segera mengajukan permintaannya : “Aku ingin menjadi Kepala PD Pasar yang disegani dan bijaksana.” Tak lama kemudian… Wooosssssshhh.. Asap pekat menyelimuti dan.. Banu pun sudah berpakaian lengkap ala Kepala PD Pasar berjalan dengan penuh wibawa.

Benu yang mendapat giliran ketiga terlihat berpikir-pikir dengan apa yang ingin dia minta sambil berucap : “Aku ingin apa yaa, Jin?.. Begini lho, Jin Botol.. Sekedar kamu tahu bahwa aku ini memiliki badan yang kurus kering, berkulit hitam, dan sudah jelas serta pasti berwajah jelek. Jangankan pacar, cewek aja nggak ada yang mau berdekatan denganku.. Mmmmmhh… Ingin apa aku yaa??.. Aduh, bingung aku, Jin”

Belum selesai Benu memikirkan segala kelengkapan atas kekurangannya apalagi menentukan keinginannya, tiba-tiba : Weeesssssshhhh.. Asap pekat menyelimuti dan.. Seketika Binu dan Banu kaget bukan kepalang mendapati Benu yang sekarang telah berubah menjadi : gemuk, putih, dan.. sedang dipegang-pegang oleh para wanita.. Karena sekarang Benu telah berubah menjadi sepotong TAHU!!..

****

Beberapa waktu yang lalu saya pernah bertemu dengan seorang teman yang ingin mengajak ngobrol alih-alih untuk konsultasi. Dalam pembicaraan itu teman saya berkeluh kesah tentang apa yang sedang dialami dalam kehidupannya. Dengan berniat membantu, saya meladeni dengan merespon apa yang menjadi keluhan-keluhannya dan sesekali mengeluarkan jurus-jurus “menasehati”. Dari lamanya pembicaraan tersebut saya baru menyadari bahwa ternyata saya sudah ter-hipnotis untuk masuk ke dalam dunia keluhannya.

Sesaat setelah saya menyadari, saya pun menanyakan kepadanya : “Sebentar.. sebentar.., Sebetulnya apa yang kamu inginkan, teman?”

Seketika juga saya melihat ada secercah harapan dari wajah teman saya menandakan bahwa dia sudah tidak terlalu larut dalam kegelisahan yang dialaminya yang bahkan mungkin peristiwa yang dialaminya tersebut sudah berlangsung cukup lama dan sudah tidak eksis lagi.

Dan dengan pertanyaan yang saya ajukan : Apa yang sebetulnya kamu inginkan, seolah bukan teman saya saja yang merasa berdaya tapi demikian juga dengan saya!!..

Akhirnya pertemuan itu sepakat untuk saya dan teman saya mengakhirinya dengan terlebih dahulu melakukan beberapa teknik-teknik sederhana yang ada dalam NLP.

****

Sebagai salah satu metode dalam membantu seseorang dalam merespon setiap perubahan yang terjadi dalam dirinya, NLP meyakini bahwa satu hal yang menjadikan langkah dalam melakukan perubahan menjadi lebih efektif adalah menentukan terlebih dahulu : Apa yang kita inginkan.

Tidak memiliki keinginan dapat diibaratkan sebagai : Menyumpahi makanan yang tidak enak sedangkan bibir kita masih sibuk mengunyahnya.

Dengan menentukan keinginan lebih dulu akan setidaknya memudahkan kita untuk mengambil langkah apa yang akan kita ambil selanjutnya.

Secara sederhana, menentukan apa yang sebetulnya diinginkan dan selanjutnya mengambil serangkaian langkah apa yang perlu ditindaklanjuti dalam NLP disebut sebagai Outcome.

Richard Bandler pernah mengatakan bahwa : “if you can help people to get out of their “normal” thinking and put some new ideas, the people can do the new thing.”

Dalam dunia Hypnotherapy hampir secara umum seorang Hypnotherapist akan senantiasa mendapati klien yang berkeluh kesah.. Ya pasti lah yaaa.. Namanya juga Hypnotherapist yang tugas utamanya menjadi pendengar setia daripada menjadi pembicara setia..

Tetapi ijinkan saya menyumbang ide berkaitan dengan apa yang dapat kita lakukan (setidaknya ini yang pernah saya lakukan), apabila kita sedang melakukan proses terapi perlu kiranya membatasi atas apa yang menjadi keluhan klien. Hal ini bukan berarti kita tidak peduli dengan keluhan klien, tetapi lebih bertujuan untuk “segera” membantunya dalam menemukan kembali sesuatu yang pernah klien tidak sadari bahwa ternyata mereka sudah memiliki sumber daya dalam dirinya dalam melakukan suatu perubahan.

The resources an individual needs to effect a change are already within them : begitu bunyinya dalam Presuppositions of NLP.

Penjelasan lebih lanjut melalui video mengenai Presuppositions ini dapat dilihat di sini

****

Dalam tips berikut, saya akan berbagi pengalaman bagaimana membantu klien dalam membuat Outcome dengan menentukan serta mengambil langkah dalam dunia internal klien lewat sebuah gambaran “mental theater” dengan mengakses Sensor Modalitas-nya.

Ada 3 (tiga) langkah dalam membantu klien untuk berpindah fokus ke dalam state berdaya lewat penentuan Outcome, yaitu :

Apa yang sesunguhnya Anda inginkan?

Dengan mengajak klien untuk mengenali apa yang sebetulnya menjadi keinginanya, setidaknya akan membantu klien untuk merubah “state” dari yang merasa tidak berdaya menjadi lebih berdaya.

Ketika mengajukan pertanyaan ini (dengan tujuan breaking state pula), hendaknya terapi melakukan Marking Out, seperti : perubahan dalam pola gesture/posture, intonasi, perubahan pola nafas, dan lain sebagainya.

Contoh : Melakukan Marking Out dengan tanda gesture – pergerakan tangan yang menengadah seperti menggambarkan adanya sebuah kesempatan yang bisa diambil (saya biasanya melakukan dengan gerakan tangan menggenggam).

Apa yang akan terjadi jika keinginan Anda tersebut tercapai? Bagaimana jika tidak tercapai? Apa dampaknya?

Pertanyaan ini bertujuan pula untuk lebih mengetahui Meta Program dalam diri klien yang berguna bagi seorang Hypnotherapist dalam melakukan teknik terapi lewat sugesti yang berupa Metafora dalam Hypnotherapy. Sehingga dengan mengetahui apa yang ingin dicapai dan apa yang ingin dihindarinya terhadap Outcome-nya, dapat dijadikan sebagai bahan dalam penyusunan skrip Metafora.

Bagaimana Anda tahu jika keinginan tersebut telah tercapai?

Pada tahap ini, pertanyaan sudah bergeser untuk lebih mengakses struktur Sensor Modalitas klien. Sehingga diharapkan seorang terapi dapat memandu untuk dapat mengakses kemampuan Submodalitas klien dalam membuat gambaran dalam dunia internalnya terhadap Outcome yang telah ditentukan. Melalui pertanyaan ini pula, kita sebetulnya juga dapat mengajak klien untuk mampu mengakses Timeline dalam dunia internalnya (Future Pacing).

Contoh : Apa yang anda rasakan, gambaran seperti apa, atau bahkan ada suara-suara dalam benak anda seperti apa yang akan meyakinkan Anda bahwa keinginan Anda tersebut telah tercapai?

Simak apa yang disampaikan klien, yang nantinya juga dapat bermanfat jika kita akan menggunakannya dalam melakukan teknik Re-map Submodality

****** Bisikan kecil :

Tips ini juga akan sangat membantu dalam penyembuhan kasus traumatik atau phobia dengan harapan agar lebih menghilangkan efek traumatk dengan memberikan efek traumatik baru yang lebih memberdayakan (yang tentunya dengan melakukan teknik Fast Phobia Cure terlebih dahulu).

****

Tulisan yang saya tuangkan ini merupakan pengalaman pribadi yang pernah saya lakukan dan tentunya akan semakin lebih lengkap jika para sahabat pembaca mau berbagi untuk melengkapi, mengurangi, atau bahkan boleh mencoret habis jika dirasa memang tidak mujarab.

Selamat malam dan saya berjanji besok tulisan ini akan saya upload karena sekarang saya sudah ngantuk.. He he he..

Semakin berdaya-lah kita untuk orang lain..

Salam teman belajar,

Totok PDy

Pin It on Pinterest

Shares
Share This