Artikel NLP Reframing

Artikel NLP Reframing kali ini akan saya jelaskan dengan terlebih dulu saya awali dengan anekdot dengan judul Sisir Ajaib

Ada seorang penjual yang menjajakan barang dagangannya dengan cara berkeliling dari kampung ke kampung. Hal yang menarik dari si penjual ini adalah barang dagangan yang dijualnya hanyalah 1 (satu) jenis barang saja yaitu sisir rambut yang terbuat dari plastik.

Setiap hari seperti biasa si penjual sisir berjalan berkeliling, masuk dan keluar kampung untuk menawarkan dagangannya yang semata wayang.

Setelah berjalan cukup jauh sampailah di sebuah kawasan pemukiman dan kali ini yang menjadi target market adalah para ibu-ibu yang sedang berkumpul dengan tukang sayur untuk berbelanja serta bapak-bapak yang sedang berdiskusi di warung-warung kopi.

Dengan diawali masuk ke dalam state layaknya seorang sales top kelas dunia, dia mendatangi ibu-ibu dan bapak-bapak tersebut dan mulailah proses sugesti dimulai : “Bapak dan ibu sekalian yang nantinya ingin selalu tampil rapi (future pacing dan chunk up), perkenalkan saya menyampaikan informasi mengenai produk Sisir Ajaib. Sisir ini (sambil menunjukkan sisir yang dimaksud) sangat praktis, ringan, dan yang pasti awet karena dibuat dari bahan plastik bermutu tinggi.”

Sambil menjelaskan panjang lebar dia mempraktekkan layaknya orang yang sedang menyisir rambut sambil mengatakan : “Sisir Ajaib ini hanya khusus bagi yang selalu ingin tampil lebih trendi (tanpa sengaja sebetulnya dia melakukan analogue marking). Begitu praktis dengan ukurannya yang kecil sehingga dapat disimpan di mana saja.”

Dengan melakukan peragaan si penjual itu menyambung : “Mau ditaruh di saku baju bisa, di dompet bisa, di saku celana bisa. Dan yang paling menarik dan unik dari sisir ini adalah Anti patah.. Ya, Sisir Ajaib ini Anti patah.”

Si penjual mulai meliuk-liukkan sisir tersebut dan dia semakin berucap dengan suara yang lebih lantang: “Anti patah.. Anti patah..”.

Tiba-tiba terdengar bunyi : KRrrrrraaakk….. Sisir tersebut ternyata memang patah!!..

Kejadian tersebut menciptakan kesunyian sejenak hingga ada seorang ibu yang berkomentar : “Kok sisir-nya patah?”

Dengan tetap tenang dia melayangkan “jurus maut-nya” sambil mengatakan : “Tidak semua penjual mau mengorbankan produknya hanya untuk menunjukkan kualitas barangnya terbuat dari bahan plastik seperti apa. Nah, sekarang anda semua bisa melihat bagian dalam-nya!!……………”

Sempurna…!!!!

****

Artikel NLP ReframingDari cerita di atas mungkin kita bisa mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh penjual tersebut hanya sekedar “nge-les” alias mengelak.

Bisa saja si penjual memilih untuk diam, kaget, atau bahkan tanpa memberikan respon dengan cara memberikan suatu makna baru atas kejadian Sisir Ajaib yang patah tersebut.

Tetapi bisa dibayangkan apa yang akan terjadi.

Para prospek dapat dipastikan akan langsung mundur teratur dan lama kelamaan menghilang satu per-satu  sambil mungkin ada yang berkomentar : “Sisir lemah kok dijual”..

****

Suatu peristiwa atau kejadian jika diberikan sebuah pandangan lain yang berbeda (yang baru) akan memiliki nilai atau makna baru dan yang pasti berbeda pula. Cara kita memberikan sebuah pandangan yang baru (membingkai ulang) atas suatu peristiwa atau kejadian di dalam NLP disebut sebagai Reframing.

Ada 2 (dua) jenis Reframing, yaitu : Reframing CONTENT dan Reframing CONTEXT

Reframing Content adalah pemberian suatu pandangan baru (berbeda) sehingga sebuah peristiwa dapat memiliki nilai atau makna yang baru.

Reframing Context adalah pemberian suatu pandangan baru dimana dalam waktu dan kondisi yang berbeda, sebuah peristiwa yang sama dapat memiliki makna yang baru.

Berikut penjelasan mengenai penggunaan Reframing Context dan Content dari contoh cerita kejadian Sisir Ajaib yang patah tersebut di atas :

• Reframing Content

“Kalau tidak saya tunjukkan dalamnya pasti anda akan penasaran seperti apa sebetulnya bahan dari sisir Ajaib ini.”

• Reframing Context

“Hanya penjual professional yang berani “mengorbankan” produknya untuk membuktikan akan kualitas barangnya.” (Konteks sebagai penjual yang profesional)

REFRAMING DALAM HIPNOTERAPI

Bagi para praktisi Hypnotherapy, penggunaan Reframing sangat membantu sekali sebagai salah satu bentuk Communication Therapy sebelum dilakukannya teknik-teknik yang lain. Reframing biasanya lebih banyak digunakan ketika dalam proses pre-induction untuk sekedar menggali permasalahan yang ada pada diri klien. Bahkan tidak jarang pula dalam beberapa kasus tertentu dengan menggunakan teknik Reframing yang baik, proses terapi dapat dilanjutkan hanya dengan menambahkan beberapa teknik terapi lain yang lebih simple, seperti teknik relaksasi untuk motivasi, pembuatan Anchor, Circle of Excellence, serta teknik-teknik yang lain.

Salah satu contoh kasus aplikasi teknik Reframing dalam Hipnoterapi :

Ada seorang klien yang mengatakan bahwa dirinya sedang stress berat karena akhir-akhir ini tugas dan tanggung jawab yang diberikan oleh pimpinan untuk dikerjakannya menjadi lebih banyak dari sebelumnya.

Dengan menggunakan teknik Reframing kita dapat mengawalinya pada proses pre-induction dengan cara :

– Reframing Content :

“Masih untung diberi tugas banyak, daripada tidak diberi tugas dan tanggung jawab dan anda (baca : klien) hanya disuruh datang ke kantor, absen, duduk, menunggu jam pulang kantor, yang artinya kemampuan anda sudah tidak diperhitungkn bahkan tidak diperlukan lagi, sehingga anda tinggal menunggu pesangon dari pimpinan anda.”

– Reframing Context :

“Tugas yang dipercayakan oleh pimpinan anda, menunjukkan bahwa anda memiliki kemampuan yang lebih di antara rekan kerja anda yang lain. Tidak semua orang memiliki kesempatan berharga seperti ini. Bukankah dengan kesempatan tersebut dapat menjadi sarana promosi jabatan bagi karir anda dalam perusahaan? Perkara banyak atau sedikitnya tugas tersebut hanyalah bagaimana anda mampu mengatur waktu untuk menyelesaikannya dan hanya perlu mengetahui cara sederhana untuk membuat diri anda lebih termotivasi.”

Ada beberapa catatan penting berkaitan dengan penggunaan teknik Reframing dalam proses Hipnoterapi :

  1. Perlu dingat bahwa meskipun Reframing adalah suatu teknik komunikasi yang sangat “powerfull”, akan tetapi hendaknya perlu dilakukannya Building Rapport terhadap klien terlebih dahulu agar tercipta suasana keakraban.
  2. Tujuan utama dari Reframing adalah membantu klien untuk lebih berdaya dalam memiliki pilihan-pilihan yang lain untuk merespon terhadap suatu peristiwa tertentu, dan bukannya menyepelekan “permasalahan” yang sedang dihadapi oleh klien. Tetaplah “hormat” terhadap apapun yang menjadi keluhan klien.
  3. Setiap bentuk komunikasi yang “ditangkap” oleh klien tidak hanya bersifat verbal, melainkan juga non-verbal (bahasa tubuh, intonasi, maupun ekspresi). Oleh karena itu ketika kita melakukan Reframing lakukan terlebih dahulu Connectedness melalui bentuk rasa empati terhadap dengan klien.

Penjelasan lebih lengkap melalui video tentang pengertian Reframing dapat dilihat di sini.

Tentunya dengan sering kita mempraktekkan Reframing dalam proses Hipnoterapi, teknik penyampaian dalam Reframing akan menjadi semakin halus dan terasah untuk membantu klien menjadi lebih berdaya tanpa klien menyadarinya.

Selain untuk aplikasi dalam Hipnotherapi, penggunaan teknik Reframing dapat juga digunakan pada peristiwa atau kejadian yang kita alami sehari-hari yang terkadang menurut kita tidak memberdayakan agar lebih mampu menjadikan kita berdaya dan tentunya dengan cara yang lebih menyenangkan.

Selamat melakukan Reframing terhadap pengalaman dalam hidup anda !!

Salam berteman,

Totok PDy

Pin It on Pinterest

Shares
Share This