Artikel NLP Somatic Response

Artikel NLP Somatic Response. Apa itu? Untuk mengawali pembahasan tentang Somatic Response akan saya sampaikan anekdot dengan judul Pairun dan Paikem.

Mungkin karena efek sebuah tontonan atau karena pikiran nakal kreatif yang sedang hadir di benak Pairun, malam itu dia sepakat dengan Paikem untuk membunuh heningnya malam dengan bercinta di ruang tamu.

Saat sedang asik-2’nya mereka berdua, mendadak Paikem berbisik kepada Pairun : “Mas, sepertinya ada suara orang di luar.”

Entah karena ill-feel atas ucapan Paikem atau memang karena Pairun yang setengah “budheg”, dia-pun lantas menyaut, “Ah, itu mungkin karena perasaan’mu saja, dik.”

Selang beberapa lama dan sebagai kata penutup dari usainya “ritual” mereka, Pairun sambil senyum-senyum penuh kebanggan bertanya kepada Paikem : “Gimana, dik? Enak, khan?”

“Ah, itu kan hanya perasaan’mu aja, mas.” Jawab Paiken ringan sambil membalikkan tubuhnya.

*****

Artikel NLP Somatic ResponseBenarkah perasaan itu ada? Sebagai contoh, rasa marah. Benarkah marah adalah sebuah rasa?

Marah adalah hasil dari proses berpikir manusia dengan pola dan strategi tertentu atas pemaknaan sebuah peristiwa. Hal ini berarti bahwa seseorang dapat marah jika pola dan strategi berpikirnya terpenuhi (mission complete) untuk menjadikannya marah. Selama kedua hal tersebut belum terpenuhi maka marah belum cukup eksis dalam dirinya untuk diwujudkan dalam sebuah kondisi mental tertentu.

Meski marah adalah hasil dari proses berpikir yang bermanivestasi menjadi state (bahasa awam : mood) bukan berarti bahwa marah adalah sesuatu yang murni bersifat abstrak yang tidak dapat terkodekan secara nyata.

Jika kita kembali merunut tentang pola program bagaimana manusia menerima informasi melalui kelima inderanya, yang kemudian diproses dalam pikiran (dan dikolaborasikan atau disesuaikan dengan program yang sudah ada sebelumnya) maka hasil dari rangkaian program pikiran tersebut juga akan dikodekan selain menjadi makna juga dirupakan dalam bentuk sensasi rasa pada bagian tubuhnya.

Sensasi rasa yang saya maksud di sini adalah sensasi yang dapat dikenali secara fisik. Istilah ini dikenal dengan sebutan Somatic Response. Sebagai contoh : jika kita mendengar sebuah cerita dari seorang teman atau merangkai cerita sendiri (baca : menghayal) tentang sebuah peristiwa yang menakutkan, maka ada bagian dari tubuh fisik kita yang meresponnya dengan memberikan sensasi berupa tanda-tanda tertentu seperti bulu kuduk berdiri atau mungkin badan yang terasa dingin, dan lain sebagainya. Inilah yang dimaksud dengan Somatic Response dimana tubuh akan memberikan reaksi terhadap sebuah program olah pikiran kita.

Somatic Response ini bekerja dan terletak di tubuh kita pada bagian-bagian tertentu yang bersifat sangat khas atau unik. Artinya jika kita menerima informasi tertentu maka reaksi dari tubuh kita melalui Somatic Response ini akan berbeda jika kita menerima sebuah informasi yang berbeda pula.

Pada dasarnya justru Signal Response inilah yang terkadang mengganggu kita (jika memang dianggap sebagai sesuatu yang mengganggu) apabila kita di-stimulus oleh sebuah informasi yang datang dari luar atau dari diri kita sendiri lewat hasil olah pikiran. Oleh karena itu salah satu cara sederhana jika kita merasa tidak nyaman dengan adanya informasi yang mengganggu tersebut adalah dengan mengenali di mana letak Signal Response tersebut untuk kemudian kita alihkan pada bagian tubuh yang lain. Hal ini akan menyebabkan setidaknya mengurangi rasa ketidaknyamanan tersebut atas hadirnya sebuah informasi dalam pikiran kita karena tubuh akan beraksi dengan cara yang berbeda pula. Secara analogi dapat dikatakan adanya sebuah link yang terputus.

Selamat bereksplorasi dengan Signal Response Anda.

Pesan saya : Kalo bagian yang enak-enak mending nggak usah dipindah aja.. Heuheuheuheu

Salam,

Totok PDy

Pin It on Pinterest

Shares
Share This