Artikel NLP Teknik Komunikasi Untuk Dunia Coaching

Artikel NLP Teknik Komunikasi Untuk Dunia CoachingKali ini saya akan membahas tentang cara dalam mengaplikasikan teknik komunikasi NLP pada dunia coaching.

Tidak dipungkiri bahwa NLP merupakan salah satu metode yang paling tepat jika seseorang ingin melakukan strategi dalam hal coaching (pendampingan) untuk membantu orang lain. Hal ini dikarenakan adanya ketersediaan strategi berkomunikasi di NLP terutama tentang rumusan pola-pola bahasanya.

Selain itu jika dicermati dari definisi coaching yang artinya adalah sebuah proses dalam membantu orang lain untuk lebih berdaya ketika ingin memiliki sebuah ketrampilan tertentu, maka keberadaan NLP yang erat kaitannya dengan konteks pemberdayaan diri tentunya juga sangat berkesinambungan.

Hal ini ditegaskan pula oleh Richard Bandler sebagai penggagas utama dari lahirnya NLP yang mengatakan bahwa NLP tidak lebih dari sebuah pengetahuan yang mengajarkan orang tentang cara berpikir.

Bagaimana tepatnya peran NLP yang notabene sebagai sebuah konsep tentang berpikir jika dikaitkan  dengan dunia coaching? Dan seberapa efektif konsep serta metode coaching jika kita menggunakan NLP?

Manusia memiliki program dasar dalam berperilaku yang dikenal dengan adanya sebuah rumusan yang disebut sebagai : “stimulus (then) response”. Rumusan ini hampir mirip dengan apa yang berlaku dalam dunia pemrograman secara umum yang disebut sebagai hukum : “if … then” yang artinya jika terjadi “ini” maka akan berlaku “ini”. Inilah tepatnya yang menjadi program dalam diri manusia hingga bermuara pada lahirnya sebuah perilaku.

Perilaku yang dimaksud di sini adalah tentang bagaimana hasil akhir dari sebuah pemaknaan akan adanya sebuah ide yang diproses dengan cara berpikir tertentu nantinya mampu menghasilkan perubahan dalam hal kondisi mental maupun tindakan.

Jika kita merunut kembali dari tulisan saya di atas tentang pengertian dari metode coaching, maka sebetulnya yang dilakukan seorang praktisi NLP hanyalah membantu menemukan pilihan lain dalam hal cara berpikir dari diri seorang klien. Dengan membantu untuk mendapatkan referensi pemikiran lain tersebut diharapkan program if … then yang lama tidak bekerja kembali dan akan digantikan oleh program cara berpikir yang baru.

NLP yang lahir sebagai hasil dari pemodelan terhadap beberapa terapis hebat terdahulu (Fritz Perls dan Virginia Satir), telah menemukan adanya pengunaan pola-pola bahasa tertentu dapat membantu mengajarkan seorang klien untuk berpikir dengan cara yang berbeda. Pola-pola bahasa itu dikenal di NLP dengan istilah Meta Model.

Sekilas akan saya jelaskan tentang seberapa efektif penggunaan dari pola bahasa Meta Model ini dalam aplikasinya untuk membantu seseorang menemukan cara berpikir yang berbeda tersebut. Sebagai contoh, ada seseorang yang memiliki asumsi bahwa pimpinan di tempatnya bekerja sudah tidak lagi menyukainya.

Sebelum nantinya kita akan bahas sebuah strategi coach sederhana dalam membantu klien untuk menemukan pemaknaan yang berbeda, maka sebagai seorang fasilitator dapat mengawalinya dengan mengajukan pertanyaan sederhana seperti misalnya : apa yang dimaksud dengan tidak menyukai atau mungkin alasan dibalik penilaian terhadap makna yang disampaikan.

Hal ini perlu dilakukan karena pada dasarnya seorang fasilitator memang benar-benar tidak mengetahui apa yang tersembunyi di balik pemikiran seorang klien. Dengan mengajukan pertanyaan ini sebetulnya seorang fasilitator sedang berupaya mengetahui tentang rumusan cara berpikir seorang klien. Inilah contoh dari apa yang dimaksud dengan pengertian Modeling dalam NLP yang artinya mencari tahu sesuatu yang paling mendasar.

Jika klien telah menyampaikan jawabannya maka untuk selanjutnya seorang fasilitator dapat mengajukan pertanyaan lanjutan dengan konsep pertanyaan yang berorientasi terhadap proses bagaimana bekerjanya program pemikiran tersebut. Hal ini bertujuan untuk lebih mengenali bagaimana tepatnya proses berpikir klien hingga menghasilkan pemaknaan tersebut yang tidak lain mengetahui “if”-nya.

Langkah selanjutnya yang perlu dilakukan oleh fasilitator adalah dengan mempertanyakan kembali apakah hubungan dari if dan then tersebut memang sebagai sesuatu yang bersifat absolut benar. Jika memang bukan sebuah kebenaran yang mutlak yang seharusnya terjadi dan masih adanya kemungkinan lain untuk membangun sebuah bentuk korelasi yang baru namun memiliki pemaknaan yang berbeda, maka seorang fasilitator dapat menawarkannya kepada klien.

Inilah konsep dasar pemahaman tentang cara mneggunakan pola bahasa yang terdapat dalam NLP guna membantu seorang fasilitator dalam membantu seorang klien untuk berpikir dengan cara yang berbeda.

Selamat bereksplorasi !!

Salam,

Totok PDy

Pin It on Pinterest

Shares
Share This