Artikel NLP Tentang NLL Awal Sebuah Keputusan

Artikel NLP Tentang NLL Awal Sebuah KeputusanArtikel NLP kali ini membahas tentang NLL sebagai landasan ketika seseorang ingin mengambil sebuah keputusan untuk berubah  

Dulu selepas saya memutuskan untuk memajukan diri dengan keluar dari pekerjaan saya sebagai seorang karyawan, keinginan saya hanya 2 (dua) : saya ingin melepaskan diri dari rutinitas alias bebas waktu serta punya banyak uang !!.. Pemikiran ini dilandasi dari pengamatan saya terhadap segala informasi yang ada serta tambahan cerita dari beberapa teman saya tentang nikmatnya memiliki bisnis sendiri dan punya waktu luang yang banyak.

Atas dasar keinginan tersebut maka segeralah saya putuskan untuk memulai hidup baru sebagai orang bebas dan sekaligus menjadi seorang pebisnis. Awal pilihan saya jatuh adalah ingin memiliki bisnis Event Organizer (EO) karena bidang bisnis yang satu ini sedang menjamur bahkan menjadi trend bisnis bagi para profesional muda kala itu. Ditambah lagi keyakinan dari diri saya sendiri yang menyatakan bahwa saya punya kemampuan dalam hal desain grafis, yang menurut saya pada waktu itu dapat mendukung bisnis EO saya. Dalam perjalanannya saya banyak dikenalkan dengan berbagai macam fenomena berkaitan dengan dunia bisnis mulai dari berkenalan dengan berbagai macam tipe klien, interaksi dengan sesama pebisnis (kolega), hingga belajar tentang mengolah keuangan bisnis yang ada.

Dengan berjalannya waktu serta lewat berbagai macam informasi dan pengetahuan yang ada, maka saya mulai beralih dari satu bidang bisnis ke bidang bisnis yang lain. Hingga suatu saat saya dikenalkan dengan dunia pelatihan pemberdayaan diri yang saya tekuni hingga saat ini. Dari bidang ini pula saya berkesempatan untuk menulis sebuah buku. Berhenti sampai di situ? Tidak !!

Saat ini bahkan saya juga sudah sedikit mulai mengambl ancang-ancang untuk bergeser kembali menggeluti sebuah bidang lain yang untuk sementara waktu masih perlu saya rahasia-kan dulu.. Heuheuheu..

Jika saya berkaca dari pengalaman hidup saya hingga saat ini dalam menggeluti serta bermain dalam bidang usaha atau tepatnya berbisnis, saya semakin memahami bahwa ternyata ada pelajaran menarik yang dapat saya petik serta ingin saya bagikan kepada Anda. Hal yang paling utama yang ingin saya sampaikan dalam tulisan saya kali ini adalah jika Anda ingin memulai sebuah bidang usaha (baca : bisnis) atau ingin beralih dari usaha yang lama entah dengan tujuan ingin menambah pendapatan atau sekedar ingin terlihat punya banyak bisnis adalah justru terletak pada landasan filosofis dan bukan ranah teknisnya.

Ranah filosofis yang saya maksud di sini adalah bagaimana kita menentukan sebuah sikap awal yang akan menjadi landasan dalam memulai sebuah usaha dan justru malah bukan mengenai jenis bidang bisnis apa yang menjadi pertimbangan utamanya.

Apabila kita melihat sebuah fakta yang ada di dunia bisnis, banyak sekali kita temui cara bagi seseorang untuk dapat menjadi kaya meskipun terkadang jika kita lihat sekilas seolah bisnis tersebut tidak menjanjikan sebagai sarana untuk dapat menjadi kaya. Seringkali jawaban atas adanya fenomena ini adalah adanya ketekunan dari si pelaku bisnis tersebut.

Lantas jika memang ketekunan, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana supaya kita dapat memiliki sikap ketekunan tersebut?

Alasan dibalik sebuah keputusan

Saya termasuk salah orang yang tidak pernah cukup merasa puas akan sebuah jawaban yang hanya menggunakan pola bahasa yang bias atau global. Bukan lantaran karena saya yang sok ingin tahu namun lebih bertujuan agar saya dapat menelaah arti dari sebuah kata secara lebih detail hingga saya dapat memahami sepenuhnya apa yang dimaksud dari sebuah kalimat atau kata tersebut.

Jika menilik dari kalimat “ketekunan” seperti tersebut di atas, saya justru malah semakin bertanya lebih lanjut tentang apa tepatnya yang dimaksud dengan ketekunan dan bagaimana caranya supaya saya dapat memiliki sikap ketekunan tersebut.

Bagi Anda yang sudah berkenalan cukup akrab dengan NLP (Neuro-Linguistic Programming) maupun yang belum mengenal NLP sekalipun, kali ini saya ingin mengetengahkan akan sebuah pemodelan yang saya pikir adalah salah satu cara yang sangat efektif dalam menyelami dunia perilaku manusia.

Perkenalkan : NLL (Neuro-Logical Levels) !!

Sebagai awal maka secara singkat dapat saya jelaskan mengenai apa itu NLL yang tidak lain adalah sebagai sebuah perumusan tentang bagaimana seseorang dapat memiliki sebuah perilaku yang bersifat kompeten dan permanen. Pengertian dari kompeten disini adalah sebuah perilaku yang bahkan seseorang yang memiliki perilaku tersebut tidak mampu untuk menjelaskan mengapa dia cakap sekali dengan perilaku yang dimilikinya tersebut.

Sekedar contoh sederhana, jika Anda saat ini sudah mampu mengendarai mobil dengan disertai aktivitas yang lain seperti mengobrol dengan dengan teman di sebelah Anda meski saat jalanan macet, maka Anda sudah dapat dikatakan memiliki kompetensi dalam hal mengendarai mobil tersebut. Artinya Anda sendiri sudah memiliki sebuah perilaku dimana Anda sendiri-pun bahkan tidak perlu untuk memikirkan caranya lagi. Semua bekerja secara otomatis dan by default !!

Kembali jika kita mengulas tentang sebuah perilaku yang kita sebut sebagai ketekunan, maka melalui NLL perilaku tersebut sebetulnya juga memiliki struktur perilaku yang sama dengan contoh tentang kemampuan Anda dalam mengemudikan mobil.

Jika melihat kembali perjalanan dari sebagian hidup saya yang berkenaan dengan dunia bisnis, maka saya menemui sebuah fenomena yang menarik dimana saya agak suka berpindah-pindah dari sebuah bisnis ke bisnis yang lain. Bagi beberapa orang atau bahkan teman-teman saya, hal ini memancing mereka untuk memberi julukan ke saya sebagai orang yang gampang bosan alis kurang tekun. Tidak salah juga mereka mengatakan seperti itu karena memang begitu seringnya saya berganti-ganti bidang usaha pekerjaan.

Namun jika saya cermati kembali berkaitan dengan keberaadan rumusan perilaku yang terdapat dalam NLL, maka saya menjadi tahu alasan mengapa saya begitu mudah beralih dalam konteks bidang pekerjaan saya. Apabila dilihat dari sudut pandang NLL maka hal tersebut dapat diulas atau distrukturkan dengan jelas sehingga alasan berganti-gantinya bidang pekerjaan saya menjadi sangat masuk akal.

Bersambung

Salam,

Totok PDy

Pin It on Pinterest

Shares
Share This