Belajar dari film Turbo Tentang Tanggung Jawab Berpikir

Belajar dari film Turbo tentang tanggung jawab berpikir yang seperti apakah? Simak artikel berikut ini

Saya termasuk salah satu penyuka film karena di balik suguhan alur cerita serta kecanggihan teknologi animasinya (biasanya) ada pesan yang terkadang membuat saya perlu untuk merenunginya. Dan biasanya pesan yang disampaikan bukanlah bersifat menggurui namun berupa sindiran yang justru malah banyak bermuatan pesan filosofis. Menariknya adalah tidak semua pesan-pesan tersebut disampaikan oleh sebuah tayangan film yang pemerannya adalah manusia melainkan juga film-film animasi yang biasanya menjadi konsumsi anak-anak.

Beberapa waktu yang lalu di beberapa bioskop marak dengan hadirnya sebuah film animasi yang berjudul : “TURBO”. Awalnya ketika salah seorang putra saya mengajak untuk menonton film tersebut saya hanya manggut-manggut untuk sekedar menyenangkan atas keinginannya menonton film tersebut. Namun setelah usai pertunjukkan film tersebut justru saya yang paling sibuk membahas tentang film tersebut dengan pesan-pesan yang disematkan melalui alur ceritanya.

Belajar dari film Turbo tentang tanggung jawab berpikirAda sebuah kutipan dari film tersebut yang membuat saya berkeinginan untuk menulisnya dalam blog ini. Kalimat tersebut seperti ini : “Tidak ada impian yang terlalu besar dan tidak ada pemimpi yang merasa terlalu kecil”. Menariknya adalah pesan tersebut disampaikan oleh seekor siput yang memiliki “obsesi” untuk mampu berlari layaknya mobil balap !!.. Mungkin sebuah obsesi yang penuh dengan khayalan.. Heuhehehue..

Lupakan untuk memperdebatkan keinginan si siput itu, namun mari kita refleksikan dalam kehidupan kita. Jangankan untuk memiliki keinginan se-mustahil si siput. Bahkan untuk memiliki sebuah impian yang sangat masuk akal saja kita terkadang sangat pandai pula untuk meragukannya. Mengapa hal ini dapat terjadi?

Setiap hari kita mampu menerima informasi yang sengaja memang kita perlukan (perhatikan) maupun yang tanpa sengaja masuk dalam diri kita atau lebih tepatnya pikiran kita. Tidak semua informasi tersebut selaras dengan apa yang pada saat itu sedang kita pikirkan berkenaan dengan sebuah pencapaian kita.

Mungkin suatu ketika kita memiliki cita-cita untuk memiliki gadget baru, baju, sepeda motor, mobil, rumah, dan lain sebagainya. Pada saat kita memutuskan impian tersebut mungkin pikiran kita sedang berpihak dengan diri kita. Namun dalam berjalannya waktu banyak sekali informasi yang kita terima justru seperti membuat kita sendiri untuk meragukannya. Bagaimana hal ini dapat terjadi?

Pada awalnya pikiran kita sebetulnya adalah netral, hingga ada sebuah informasi dari luar diri kita yang masuk untuk kemudian diolah oleh pikiran kita. Hasil olahan dari pikiran tersebut akan melahirkan sebuah produk berupa makna yang akan menjadi program dasar dari diri kita apabila suatu saat kita menerima informasi atau mengalami peristiwa yang sama atau memiliki keterkaitan dengan data yang ada di  pikiran kita.

Berkaitan dengan sebuah keinginan yang telah kita buat pada awalnya dimana kita sungguh meyakini untuk dapat mencapainya, dalam perjalanan untuk mencapainya kita seringkali menerima informasi yang justru melemahkannya. Mungkin ada sebuah pernyataan dari luar diri kita yang kira-kira berbunyi seperti ini : “jadi orang nggak usah berkeinginan yang muluk-muluk” dan sebagainya dan sebagainya. Jika pada saat menerima informasi tersebut kita menyepakati pernyataan tersebut (mungkin pada saat yang bersamaan kita dalam kondisi galau), hal ini tentu saja akan memberi pengaruh terhadap sebuah hasil pemikiran awal yang kita sendiri sangat meyakininya.

Apabila informasi sejenis hanya kita terima sekali saja mungkin tidak akan memberikan dampak yang berarti untuk diri kita. Namun dapat dibayangkan jika informasi tersebut secara berulang kita terima, maka program awal yang telah kita sepakati untuk meyakininya, dapat berubah menjadi sebuah keraguan yang mungkin justru malah kita yakini sebagai sesuatu yang benar untu kita tidak mampu mencapainya.

Dengan mengetahui bagaimana tepatnya pikiran kita bekerja hingga mampu merubah sebuah perilaku kita sendiri, maka sudah saatnya kita seharusnya memiliki kesadaran tanggung jawab bahwa apapun yang kita inginkan namun hingga sekarang kita belum mampu mencapainya, hal itu dikarenakan karena kita mengijinkan diri kita sendiri untuk menggagalkannya.

Tips sederhana : Tetaplah ingat terhadap apa yang kita inginkan. Karena terkadang bukan kita tidak mampu mencapainya, namun biasanya karena kita lupa bahwa kita pernah memiliki sebuah cita-cita.

Semoga bermanfaat dan salam TURBO,

Totok PDy