Belajar Hipnosis untuk belajar berbicara

belajar hipnotis untuk belajar bicaraArtikel saya kali ini akan membahas tentang manfaat belajar hipnosis yang sekaligus juga untuk melatih seseorang belajar berbicara.

Berikut ulasannya : Suatu saat saya diajak diskusi alih-alih debat dengan salah seorang teman. Tema’nya sih nggak menarik, hanya saja dengan diskusi tersebut ada semacam pengertian baru tentang fungsi dari NLP dalam kaitannya dengan kemampuan atau kecakapan seseorang dalam berbicara.

Kurang lebih diskusi tersebut berawal dengan pertanyaan dari teman saya seperti ini :

“Kalo ingin memiliki kemampuan berbicara dengan orang lain harus belajar NLP ya?”

Saya dengan semangat segera menjawab : “Salah !!.. Kalo ingin belajar bicara jangan belajar NLP.”

Sejurus kemudian teman saya menyahut dengan nada agak nggak terima dengan jawaban saya : “Lantas kalo gitu harus belajar apa, dong?”

Kembali saya-pun nggak mau kalah menyaut : “Belajar-lah Hipnosis !!”

Yaaa.. Jika kamu ingin memiliki kemampuan dalam hal bicara atau tepatnya komunikasi dengan orang lain, belajar-lah Hipnosis.

Baik mari kita kupas mengenai hal ini :

Sesuai dengan definisi secara umum dikatakan bahwa Hipnosis adalah sebuah seni komunikasi yang ditujukan kepada bawah sadar. Untuk sementara waktu tanggalkan arti tentang bawah sadar dan mari kita fokuskan kepada hal “seni komunikasi”-nya.

Dari definisi ini saja sudah jelas sekali dikatakan bahwa dengan mempelajari Hipnosis maka kita secara tidak langsung (maupun langsung sekalipun) akan dihantarkan dalam hal mengasah kemampuan bicara kita.

Lebih dari itu jika Anda mempelajari pengetahuan Hipnosis dari dasar, maka hampir dari semua disiplin kurikulum pembelajaran Hipnosis manapun akan dikenal dengan istilah praktek untuk melakukan “pre-induksi”. Dalam praktek ini setiap praktisi akan diminta untuk melakukan serangkaian bentuk komunikasi kepada partner workshop-nya dalam melakukan tahapan pre-induksi tersebut.

Jika diasumsikan bahwa peserta adalah orang awam yang masih “gres” alias baru dalam dunia hipnosis, pasti akan sedikit tersendat-sendat dalam merangkai kata untuk mengarahkan seseorang (partner workshop) melakukan pre-induksi. Namun dengan semakin banyaknya variasi bentuk pre-induksi, maka lama kelamaan seorang praktisi akan semakin “licin” dalam menyampaikan kata-katanya.

Dari tahapan ini saja sudah dapat menjadi sebuah contoh konkrit bahwa dengan belajar Hipnosis akan mengarahkan seseorang yang tadinya merasa kesulitan untuk berbicara akan dipaksa untuk mau berbicara.

Belum lagi jika sampai pada tahapan penyampaian Sugesti. Seorang praktisi Hipnosis mau tidak mau akan lebih diberi “pe-er” lagi untuk mau dengan suka rela berbicara dalam merangkai kalimat yang bernuansa sugestif (dengan melibatkan kalimat-kalimat yang memiliki muatan indrawi atau VAKOG maupun bahasa Chunk-Up, Bias, atau Ambigu).

Sekarang bayangkan jika dalam satu rangkaian workshop Hipnosis dimana peserta diminta untuk melakukan praktek yang lebih bervariatif dalam hal tema sugesti’nya, maka dapat dikatakan bahwa dengan mengikuti workshop Hipnosis (atau bahkan pada saat mempraktekkannya di luar kelas) seorang praktisi Hipnosis akan diasah dalam hal berbicara.

Nah, sekarang bagaimana dengan NLP?

Akan menjadi “fair” jika kita juga merujuk pada definisi dari NLP yang berbunyi : NLP adalah studi yang mempelajari tentang struktur perilaku manusia.

Memang jika dikaitkan dengan perilaku tentunya juga akan berkaitan pula dengan dunia pikiran yang notabene juga bersanding dengan dunia komunikasi. Jika berkaitan dengan dunia komunikasi tentunya akan ada 2 (dua) topik yang dapat diangkat yaitu : komunikasi intrapersonal dan komunikasi interpersonal. Namun meski NLP juga mengulas tentang komunikasi interpersonal, dalam prakteknya jika kembali kepada filosofi dari NLP yang lebih mengetengahkan tentang konsep modeling, maka komunikasi interpersonal yang dimaksud di sini adalah lebih mengarah kepada spirit untuk lebih mengetahui model dunia pikiran orang lain yang tentu saja “tools”-nya adalah : memberikan pertanyaan dan bukan memberikan pernyataan.

Jika ada yang bertanya lebih lanjut : “Lantas bagaimana dengan keberadaan pola bahasa Milton Model yang boleh dikatakan sangat akrab dengan bentuk kalimat pernyataan?”

Milton Model hanyalah pola-pola bahasa pemanis, penghalus, serta pelengkap jika kita ingin menyampaikan sebuah pernyataan yang ditujukan untuk konsumsi bawah sadar seseorang. Apabila seseorang tidak memiliki dasar kecakapan dalam berbicara, maka keberadaan pola-pola bahasa tersebut tidak akan menjadi efektif. Karena memainkan pola bahasa Milton Model bukanlah dengan cara berdiri secara tunggal seperti yang tertuang dalam pola bahasa yang ada (Hypnotic Language Patterns), melainkan menyusup bahkan melayang di tengah-tengah sebuah kalimat.

Nah, jika dengan bekal kemampuan bicara yang diasah lewat pengajaran pelatihan Hipnosis (yang sarat dengan pola-pola bahasa pernyataan) maka seseorang akan mampu memiliki kecakapan tersebut terlebih dengan seringnya melakukan bentuk latihan melalui praktek nantinya.

Sebagai kata penutup dari tulisan saya kali ini : “Jika Anda ingin memiliki kemampuan berbicara, belajar Hipnosis adalah sarana yang tepat untuk mengasahnya. Namun jika Anda ingin memiliki kemampuan dalam hal bertanya yang bertujuan untuk lebih mengetahui model dunia pikiran seseorang, belajar-lah NLP.”

Salam,

Totok PDy

Pin It on Pinterest

Shares
Share This