Cara Mewujudkan Impian Dengan Teknik NLPCara Mewujudkan Impian Dengan Teknik NLP

Cara mewujudkan impian dengan teknik NLP kali ini akan saya mulai dengan sebuah pertanyaan sederhana yang mungkin sering kita temui :

Saat ada seseorang bertanya kepada Anda : “Tinggal di mana?” Sejurus kemudian tentunya Anda akan menjawabnya entah dengan jawaban detail atau mungkin jawaban sederhana saja. Namun apapun jawaban Anda tersebut setidaknya akan nada “sesuatu” yang mendahului di pikiran Anda sebelum melontarkan jawaban yang dimaksud.

Sesuatu tersebut dapat berupa gambaran di benak Anda tentang lokasi keadaan di sekitar rumah Anda, suasana rumah Anda, atau mungkin gambaran lainnya. Hanya itu? Tentu tidak. Dapat juga barangkali ada meski sekilas sebuah “ucapan” atau suara yang hadir entah ucapan mengenai alamat rumah Anda atau mungkin hal yang lainnya. Selain itu dapat juga mungkin berupa sensasi rasa tertentu seperti rasa sejuknya rumah Anda dan lain sebagainya.

Hal-hal tersebut di atas dapat dikategorikan setidaknya menjadi  3 (tiga) hal :

  • Gambaran yang keluar dinamakan sebagai Visual (penglihatan)
  • Suara yang terdengar disebut sebagai Auditori (berbasiskan pendengaran)
  • Sensasi atas rasa sejuk disebut sebagai Kinestetik (perabaan)

Cara Mewujudkan Impian Dengan Teknik NLP

Demikianlah kiranya alur atau program  yang berlaku pada diri seseorang ketika hendak menyampaikan sebuah ide (baik berupa ucapan di dalam hati atau diucapkan secara langsung), dimana setidaknya orang tersebut akan merujuk pada salah satu dari referensi yang dimilikinya (VAK) terlebih dulu.

Sekarang jika pertanyaannya kita ganti misalnya dengan pertanyaan seperti ini : “Mobil idaman seperti apakah yang ingin kamu miliki?” Mungkin Anda memerlukan waktu sejenak untuk menciptakan gambaran tampilan mobil tersebut, atau suara mesinnya yang menderu, suara audio-nya yang Anda suka, atau bahkan barangkali Anda akan menciptakan sensasi saat Anda mengendarai mobil tersebut nantinya.

Dari pertanyaan ini, maka sekarang kita menjadi paham bahwa pikiran kita sangat pandai sekali dalam menciptakan sebuah peristiwa tertentu meskipun pengalaman itu belum ada, baik untuk dirupakan menjadi bentuk komunikasi baik intrapersonal maupun interpersonal.

Nah, jika sebuah komunikasi sudah terbentuk, maka hal ini akan memicu program dalam pikirannya yang berujung pada lahirnya sebuah pola perilaku tertentu. Penegasan lebih lanjut tentang hal ini dapat disarikan menjadi : sebuah program pikiran bukanlah hadir dengan sendirinya begitu saja, melainkan karenakan adanya input berupa komunikasi dalam diri seorang.

Dalam hal menggapai impian atau cita-cita pun juga berlaku sama.

Sebuah keinginan atau cita-cita sebetulnya adalah sebuah peristiwa yang belum terjadi dalam hidup kita. clewat perilaku serta tindakan kita.

Pernyataan di atas juga ditegaskan oleh NLP yang mensyaratkan bahwa jika seseorang ingin melakukan perubahan dalam hal perilakunya maka setidaknya ada 4 (empat) hal landasan yang perlu diperhatikan seperti tertuang dalam konsep 4 Pillars of NLP, yaitu : Outcome, Sensory Acuity, Flexibility, dan Rapport.

Pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang 2 (dua) hal terlebih dahulu, yaitu mengenai konsep Outcome dan konsep Sensory Acuity.

Outcome di NLP dijabarkan sebagai langkah atau cara apa tepatnya yang akan dilakukan oleh seseorang dalam mencapai sebuah keinginan atau tujuan. Konsep dari Outcome ini berbeda dengan konsep cita-cita dalam pengertian secara umum.

Sedangkan Sensory Acuity dapat diartikan sebagai kemampuan yang kita miliki berkaitan dengan kepekaan dalam hal mengakses sensori inderawi. Kepekaan sensori indrawi yang dimaksud di sini adalah tentang bagaimana kita dapat menciptakan sebuah imajinasi atau gambaran mental di pikiran kita melalui struktur baik secara Visual, Auditori, maupun Kinestetik dan terkadang juga dapat melalui sensori Olfaktori (penciuman), serta Gustatori (pencecapan).

Dengan merangkai sebuah peristiwa – meskipun belum terjadi di benak kita – untuk kemudian kita perkaya melalui bentuk Visual, Auditori, maupun Kinestetik, maka seolah kita seperti menetapkan sebuah program baru di dalam pikiran. Selanjutnya dengan program baru tersebut nantinya diharapkan kita akan mampu mengakses sebuah state tertentu sebagai bahan bakar kita dalam mencipatkan suatu bentuk perilaku baru.

Oleh karena itu mulai sekarang semakin kenali-lah Outcome Anda dengan mengasah kepekaan sensori inderawi yang Anda miliki.

Selamat berlatih dan salam,

Totok PDy 

Pin It on Pinterest

Shares
Share This