Hypnotic Story Telling

Hypnotic Story Telling kali ini membahas tentang cara bagaimana membuat sebuah cerita yang mampu memiliki efek hipnotik ketika disampaikan kepada orang lain dengan tujuan untuk komunikasi persuasi.

Yuk, langsung aja kita mulai dari sini :

Entah berawal dari mana nama “Duppa” itu disematkan padanya. Mungkin karena perawakannya yang kurus sehingga menyerupai seperti bentuk dupa aslinya.

Duppa adalah seorang lelaki yang menyenangkan untuk diajak bercerita dan sekaligus teman yang tepat untuk berdiskusi.

Pagi itu seperti biasa Duppa terlihat tengah berada di warung kopi milik pak Adenan yang terkenal dengan racikan kopinya yang khas.

“Kopi hitam satu, pak Adenan”, kata Duppa sambil matanya mengamati sederetan jajanan mulai dari pisang goreang, ubi, singkong, serta tahu goreng yang samar-samar terlihat asap mengepul menandakan makanan itu masih panas.

Belum selesai Duppa menentukan pilihannya untuk mengambil jajanan tersebut, dia mendengar suara yang tidak asing lagi memanggil namanya, dan seketika Duppa’pun menoleh sambil menyapanya kembali, “Hey!!.. Apa kabar, Run”.

Lelaki yang ternyata memiliki nama Pairun itupun langsung mendekat ke arahnya dan berkata, “Aku habis bertengkar dengan mertuaku, Ppa”

Sambil tersenyum penuh perhatian Duppa bertanya, “Memang ada apa antara kamu dan mertuamu?”.

Pairun pun mulai bercerita, “Beginilah kalau hidup serumah dengan mertua. Setiap hari selalu ada saja masalahnya. Bahkan hanya karena salah ngomong aja bisa jadi permasalahan besar yang merembet ke mana-mana, Duppa”.

Seolah Duppa tidak memperhatikan keluhan Pairun, dia pun langsung menaikkan satu kakinya di atas kursi dan berkata : ” ……….. Suatu hari ada seorang pemuda yang bernama “Cuk” menemui seorang dokter “spesialis otot” untuk konsultasi sekaligus mengobati keluhan rasa sakit yang terdapat di sekitar bagian selangkangannya. Setelah menunggu atrian yang cukup panjang, Cuk’pun sampai pada gilirannya untuk masuk di ruang praktek dokter tersebut.

“Ada keluhan apa, mas?, tanya dokter.

“Begini, dokter. Saya merasakan nyeri di bagian selangkangan yang sepertinya ada otot yang terkilir”, kata Cuk sambil meringis menahan sakitnya.

“Baik, kalau boleh tahu apakah keluhan tersebut dikarenakan sampeyan telah melakukan olah raga yang berat seperti angkat beban atau sejenisnya?, tanya dokter lagi.

“Ehmm, begini dokter.. Seminggu yang lalu saya baru saja melakukan hubungan intim atau tepatnya hubungan seksual”, aku Cuk setengah malu kepada dokter tersebut dengan ditandai volume suaranya yang melemah.

“Ooo, begitu.. Memang ada beberapa cara atau adegan hubungan seksual yang dapat mengakibatkan cidera otot. Nah, coba sampeyan ceritakan secara singkat kronologis hubungan seksual tersebut atau kalau sampeyan malu sebutkan saja “nama gaya-nya” supaya saya bisa menganalisa lebih awal keluhan yang Anda sampaikan tadi”, sahut dokter.

Sambil menggerakkan bola matanya ke atas untuk berpikir menyusun kalimat, Cuk’pun menjawab dengan antusias :“Burung Merak”, dok. Tepatnya : Burung Merak yang sedang dimabuk cinta”.

“Wah.., wah.., wah.., Sampeyan ini termasuk “petualang” juga rupanya, ya?.. Baik, sebelum saya periksa lebih lanjut ada sedikit saran dari saya untuk sering melakukan perubahan gaya dalam berhubungan badan. Selain menghindari cidera juga bisa menambah keharmonisan karena adanya variasi dalam bercinta”, kata dokter.

Cuk’pun mencondongkan kepalanya ke arah dokter dan sambil berbisik dia menyahut, “Saya sih mau aja, dok. Masalahnya Burung Merak’nya apa ya mau kalau saya ajak gonta-ganti gaya”………

……….. Seketika Pairun’pun tertawa terbahak-bahak……..

Dan belum tuntas Pairun tertawa, Duppa pun menyela dengan ucapan : “Nah. dokter saja bisa salah menduga, khan.. Kamu tahu?.. Kesalahpahaman itu adalah hal yang wajar. Sehingga mulai sekarang kamu juga harus pandai untuk mengklarifikasi terlebih dulu sesuatu yang disampaikan oleh orang lain terlebih mertuamu”, kata Duppa sambil tangannya menunjuk ke arah Pairun yang masih menyisakan tawanya.

*****

Hypnotic Story TellingDalam Conversational Hypnosis dikatakan bahwa penyampaian cerita merupakan salah satu teknik komunikasi persuasi yang sangat efektif karena mampu memiliki efek hipnotik bagi pendengarnya. Melalui cerita yang dikemas sedemikian rupa serta disampaikan dengan strategi tertentu maka sebuah pesan dapat disematkan untuk ditujukan ke bawah sadar (unconscious) seseorang dengan melakukan pengalihan lewat rangkaian cerita yang ada.

Namun tidak semua cerita memiliki dampak hipnotik bagi pendengarnya. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar sebuah cerita dapat menjadi salah satu teknik dalam melakukan strategi komunikasi persuasi, yaitu :

1.     Hypnotic Story Telling

Teknik ini mengacu pada prinsip bahwa kondisi trance adalah kondisi yang alamiah terjadi di setiap saat, pada diri seseorang. Dengan mengetahui bahwa aktivitas conscious dan unconscious senantiasa beralih dari satu ke yang lainnya maka kita dapat melakukan utilisasi terhadap kondisi ini dengan membuat sendiri peralihan tersebut dengan menjadikan conscious yang terfokus pada satu hal. Salah satu teknik dalam mengalihkan conscious adalah melalui cerita. Dengan menciptakan sebuah cerita dalam sebuah cerita yang bercerita maka fokus dari conscious pendengar akan tertuju kepada cerita tersebut sehingga kita dapat menyampaikan sebuah pesan kepada unconscious-nya. Teknik ini efektif karena ketika seseorang mendengarkan sebuah cerita maka conscious akan memberi label akan sebuah pesan tersebut sebagai : “Ini khan hanya sekedar cerita” yang berarti kita sudah melewati satu tahap eliminasi dari pikiran kritis. Selanjutnya dengan membawa pendengar pada sebuah alur cerita yang bercerita maka conscious akan dibawa kepada sebuah realita yang akan “di-isi” sendiri oleh pendengar sesuai dengan model dunia pendengar.

Salah satu teknik dalam membuat Hypnotic Story Telling pada Conversational Hypnosis adalah :

–  Start With a Routine

–  Break The Routine

–  Change Someone

 

2.     Hypnotic Language Patterns

Meski cerita sangat efektif dalam komunikasi persuasi, namun tidak semua cerita memiliki efek hipnotik bagi pendengarnya. Sebuah cerita yang disampaikan dengan struktur pola bahasa tertentu akan mampu membuat pendengarnya mengalami kondisi trance (meski sesaat).

Berikut beberapa struktur pola bahasa yang dapat dikenali dari cerita di atas :

  • Cause Effect

“Kesalahpahaman itu adalah hal yang wajar. Sehingga mulai sekarang kamu harus pandai untuk mengklarifikasi terlebih dulu akan kepastian cerita yang dikatakan oleh orang lain………” Pada kalimat ini terdapat konsep Cause Effect (Sebab-Akibat) atau Karena  ……., maka ……. ; dimana adanya 2 (dua) buah anak kalimat yang dihubungkan menjadi satu kalimat dengan diberikan kata sambung untuk memberi efek seolah-olah kalimat tersebut saling berhubungan.

  • Time Predicate

Perhatikan pada kata “mulai sekarang”. Efek dari kata sekarang adalah agar pesan yang ingin ditanamkan memiliki efek “feel it now”.

Dengan menambahkan suatu gerakan menunjuk pada lawan bicara ketika menyampaikan : “Sehingga mulai sekarang kamu harus….” ; maka sebuah pesan secara unconsciously akan dimaknai bahwa kalimat tersebut ditujukan untuk pendengarnya.

3.     Trance Signal Recognition

Mengetahui Trance Signal (tanda-tanda trance secara umum) dari diri seseorang akan membantu kita untuk menentukan saat kapan sebuah pesan dapat disematkan pada orang lain terlebih jika pesan tersebut sudah dibungkus dalam sebuah alur cerita. Sebagai contoh pada cerita di atas, dimana hal itu dapat dikenali pada saat Pairun masih menyisakan tawanya saat mendengar cerita Duppa.

Catatan Tambahan : Jika ingin menguasai teknik hypnotic Story Telling lebih lanjut dapat juga ditambahkan prinsip Nested Loops yang dapat dilihat di video saya di sini.

Semoga memberi tambahan manfaat dan selamat bercerita !!..

Salam,

Totok PDy

Pin It on Pinterest

Shares
Share This