Teknik NLP Kalibrasi Dalam Rapport

Teknik NLP Kalibrasi Dalam Rapport : Seberapa pentingya kita perlu memahami teknik kalibrasi ini untuk menjalin komunikasi dengan orang lain?

Simak artikel ini, namun terlebih dulu akan saya sajikan anekdot Pairun dan Paikem. Selamat menikmati !!

Kalau boleh di-rangking, Pairun dan Paikem adalah pasangan nomer satu untuk kategori pasangan harmonis sekaligus kompak. Hari-hari mereka senantiasa dipenuhi dengan ungkapan penuh kasih sayang dan cinta sebagai pasangan suami istri.

Namun entah mengapa dalam beberapa minggu belakangan ini suasana penuh cinta mereka seperti tengah terusik oleh kehadiran makhluk halus penebar angkara murka. Sangat jauh berkurang bahkan jarang sekali kemesraan yang senantiasa menghinggapi mereka berdua dan justru yang terjadi adalah timbulnya rasa saling curiga, tersinggung yang tidak jarang malah sering berujung ke arah pertengkaran.

Selalu ada saja penyebab pertengkaran yang timbul. Dari hal-hal yang bersifat cukup serius seperti menentukan warna cat rumah hingga masalah sepele seperti menentukan pilihan menu makanan sehari-hari, bagi mereka sudah cukup sebagai bahan bakar untuk memicu perselisihan.

Bukti nyata dari begitu “panas’nya” suasana rumah tangga mereka dapat dilihat dari salah satu adegan ketika suatu hari Pairun sedang asik-asiknya nonton salah satu acara televisi favoritnya dan dia mendengar ada suara yang tak lain adalah suara istrinya memanggil.

“Mas !!..”, panggil Paikem yang saat itu sedang memasak di dapur.

Ditunggunya respon dari sang suami sejenak. Dan setelah cukup memastikan bahwa panggilannya tidak ber-efek sama sekali, Paikem kembali memanggil untuk kedua kalinya yang kali ini dengan volume yang lebih ditingkatkan : “Mas !!.. Mas !!..”

Mulai menyadari adanya panggilan tersebut, Pairun menyahut dengan sedikit berteriak, “Yaa.., ada apa, dik?”

“Mas, nomer telpon rumah bu RT berapa ya?” tanya Paikem.

Dengan santai, Pairun menjawab : “Mbok pikir aku ini petugas Telkom 108 apa? Cari sendiri sana di buku telpon.”

Mendengar jawaban dari suaminya, Paikem hanya berkata dalam hati : “Dasar laki-laki !!..Ditanya baik-baik kok jawabnya gitu.. Awas yaa.. !!”

Seminggu telah berlalu sejak peristiwa itu terjadi hingga suatu hari mereka berdua terlihat tengah bercengkerama berdua di ruang tamu. Melihat gelagatnya sepertinya dewi cinta tengah menaungi mereka berdua.

Tengah seru dan asiknya mereka bercengkerama, sekilas Paikun melihat bahwa pintu depan ternyata belum tertutup dengan rapat. Mengantisipasi kedatangan tamu tak diundang yang tiba-tiba saja bisa nyelonong masuk, maka Pairun’pun berbisik mesra kepada Paikem : “Dik, pintu ruang tamunya tolong betulkan dulu dong”.

Paikem’pun menyahut setengah berteriak : “Kok enak !!.. Mbok pikir aku ini tukang kayu apa, mas?”

* *

KEKUATAN KALIBRASI BAHASA TUBUH

Dulu pernah salah seorang teman saya memberi nasehat sederhana yang katanya : “Kalau kamu bertemu orang, berusahalah untuk tersenyum terlebih dahulu sebelum menyapanya.”

Mendengar nasehat serta sarannya bagi saya memang sungguh tidak meragukan. Bukan karena sekedar kebenaran dari kalimat yang dikatakannya yang didapatkannya dari tips-tis tentang tata cara bergaul, namun memang dalam kesehariannya bagi saya dia termasuk teman yang sangat menyenangkan.

Dari beberapa buku yang pernah saya baca yang sekaligus turut mengamini kata-kata teman saya tadi juga banyak menyebutkan bahwa salah satu kunci utama dalam menjalin hubungan interaktif dengan orang lain adalah dengan mengawalinya lewat senyuman. Sunggingan bibir yang bermakna senyuman memang merupakan gerbang awal dalam menjalin suatu hubungan yang baik dengan orang lain.

Konon kabarnya manusia dikatakan sebagai makhluk simbol yang senantiasa “bermain-main” dengan simbol dalam setiap kehidupannya untuk dimaknai oleh orang lain serta memberi makna bagi orang lain dalam berkomunikasi.

Bentuk simbol dalam komunikasi dapat dikenali diantaranya melalui penggunaan bahasa tubuh, baik yang dilakukan secara sengaja maupun tidak. Salah satu penggunaan dari simbol ini dapat dikenali melalui bentuk penyampaian ekspresi wajah. Mata yang terbelalak, sorotan mata yang tajam, maupun kelopak mata yang menyempit, sudah cukup memberi arti yang berbeda dalam berkomunikasi. Selain itu hal lain yang dapat menjadi pembeda dari suatu makna pesan secara non-verbal adalah melalui sunggingan senyuman atau justru mulut yang hanya terkatup rapat.

Teknik NLP Kalibrasi Dalam RapportMengenali pergerakan pola bahasa tubuh dari seseorang akan sangat membantu kita dalam menentukan strategi dalam berinteraksi khususnya agar mendapatkan kesan pertama yang positif.

NLP sebagai salah satu studi yang mempelajari tentang struktur serta cara seseorang berpikir serta berperilaku dalam kaitannya dengan bentuk komunikasi interpersonal menyebutkan bahwa kemampuan dalam memiliki sensori indrawi merupakan salah satu kunci dalam membangun hubungan interaktif.

Apa itu sensori indrawi ?..

Pernahkah suatu ketika Anda bertemu dengan teman Anda dan secara tiba-tiba terlontar dari mulut Anda mengatakan : “Kok sepertinya kamu lagi bad mood, brother?” Untuk sejurus kemudian teman Anda mungkin menimpali : “Kok, kamu tahu, sister?”. Biasanya, percakapan ringan seperti itu hanya kita anggap sebagai angin lalu alias sekedar main tebak aja.

Namun mari kita berpikir sejenak, sesungguhnya ketika memutuskan untuk menebak (melalui contoh kalimat di atas) kalimat tersebut tepatnya bukanlah terlontar begitu saja melainkan ada satu hal yang mendasari atas apa yang kita ucapkan.

Suatu program perilaku dari diri seseorang sesungguhnya dapat terjadi karena adanya serangkaian program yang bekerja hingga suatu perilaku tersebut dapat timbul. Hal ini berlaku pula dengan ucapan kita meski semuanya berjalan dalam kerangka program bawah sadar. Berkaitan dengan itu, terdapatlah suatu model atau rumusan yang menjadi pendekatan dari NLP yang disebut sebagai Human Model of The World.

Melalui model tersebut akan dapat diketahui bahwa manusia dalam menerima informasi dari dunia eksternal (realitas) setidaknya akan melalui salah satu dari kelima indra yang dimilikinya yang terdiri dari : penglihatan (Visual), pendengaran (Auditory), perabaan (Kinesthetic), penciuman (Olfactory), dan pencecapan (Gustatory).

Dari respon tersebut, informasi akan dijalankan atau tepatnya diproses di dalam pikirannya atau yang sering disebut dengan dunia internal atau map (saya menyebutnya sebagai dunia kecil) yang pada akhirnya akan disimpan serta dimaknai.

Akan tetapi proses informasi yang telah tersimpan tersebut bukanlah makna utuh yang yang sesungguhnya terjadi dalam dunia relitas yang ada. Makna tersebut telah menjadi “milik” map seseorang yang berasal dari serangkaian pola program yang sebelumnya telah dimilikinya, seperti misalnya : pola perilaku, cara pandang, berbagai pola linguistik (pola bahasa yang berkaitan secara psikologis), serta pola sistem indrawi yang menjadi rujukan utama dari diri seseorang.

Untuk selanjutnya makna yang telah dimiliki tersebut suatu saat akan disampaikan (dihadirkan kembali/represent) melalui bentuk perilaku baik berupa ucapan maupun tindakan.

Kembali kepada urusan tebak menebak di atas, maka sesungguhnya apa yang kita sampaikan kepada seseorang memiliki dasar atau alasan mengapa kita harus mengatakan hal itu. Mungkin saja kita pernah bertemu dengan seseorang ketika orang lain tersebut sedang sedih, gembira, takut, atau mungkin sedang dalam kemelut masalah, dan sekaligus kita memaknainya sehingga pengalaman tersebut menjadi sebuah “data” sehingga kita mampu memaknai bahasa tubuh seseorang di kemudian hari.

Dengan semakin sering melatih kepekaan indrawi serta melakukan kalibrasi (menentukan penilaian atas informasi apa yang kita dapat dari orang lain) akan membantu kita untuk menentukan tindakan yang tepat dalam proses hubungan interaksi selanjutnya.

Sebagai contoh, jika Anda sedang berhadapan dengan seseorang yang menurut kalibrasi Anda orang tersebut sedang dalam kondisi yang baik (good state/mood), maka kita akan lebih mudah melakukan komunikasi dibandingkan seseorang dalam kondisi sebaliknya (bad mood). Dan jika kondisi bad mood yang Anda temui cobalah untuk menggunakan berbagai macam strategi komunikasi yang ada seperti misalnya melakukan pengalihan pembicaraan seputar hal-hal yang ringan terlebih dahulu sambil membangun strategi selanjutnya untuk dapat mencapai suatu bentuk kualitas hubungan yang lebih baik.

Itulah salah satu manfaat dari Komunikasi Dasar layaknya siswa sekolah dasar yang mempelajari “calistung” (baca, tulis dan berhitung) sebagai bekal untuk memahami pengetahuan yang lebih luas nantinya.

Hal ini berlaku pula dalam dunia komunikasi sebagai landasan bagi kita untuk menjadi seorang komunikator dengan lebih mengasah kemampuan (kepekaan) kita dalam melakukan kalibrasi terlebih dahulu agar setidaknya Paikun dan Paikem lebih nyaman dalam bermesraan.

Salam senyum dan berbagi,

Totok PDy

Pin It on Pinterest

Shares
Share This