Teknik NLP Modeling State yang dimaksud di sini adalah cara dalam membangun perilaku baru ketika seseorang ingin memiliki sebuah ketrampilan dalam melakukan sesuatu.

Teknik NLP Modeling StateBeberapa waktu yang lalu saya berkesempatan untuk diajak syuting oleh tim dari Trans7 untuk mengisi sebuah acara di mereka “Jam Malam” yang kali ini membahas tentang tema dunia Hipnosis.

Awal ketika saya diajak berdiskusi untuk membahas teknis pelaksanaannya saya sempat kaget juga karena saya pikir acara yang dimaksud adalah berupa talk show. Namun setelah dijelaskan oleh pihak Trans7 bahwa konsep yang akan ditayangkan adalah bermuatan “News” yang dibalut dalam semi drama, yang berarti ada semacam lakon yang harus saya perankan.

Jujur saya sempat kaget-kaget seneng karena disamping dapat berkesempatan nongol di acara televisi yang notabene dapat peluang jadi artis dadakan, namun di lain hal saya harus mampu bermain dengan peran yang saya bawakan secara natural atau alami.

DI sini NLP (Neuro-Linguistc Programming) sebagai sebuah pengetahuan yang mempelajari tentang dunia perilaku manusia sangat membantu jika seseorang ingin memiliki sebuah ekselensi dalam mengakses sebuah perilaku yang diinginkan.

Dalam konteks ini ekselensi atas sebuah perilaku yang saya perlukan adalah kemampuan untuk bermain dalam hal ber-akting layaknya seorang pemeran artis pada sebuah lakon drama.

Lantas apa tepatnya yang saya lakukan dengan menggunakan teknik yang ada dalam NLP ?

Pertama-tama, saya mengkondisikan diri saya terlebih dulu untuk dapat masuk dalam kondisi trance in dengan cara membuat gambaran mental di benak saya tentang adanya sebuah visualisasi seorang aktor yang sedang bermain dalam peran pada sebuah film.

Kemudian, sambil saya membuat gambaran dalam benak saya tersebut semakin terlihat lebih jelas dan nyata layaknya sebuah film yang sedang berputar, saya libatkan perasaan nyaman dalam diri saya agar “state” (baca : mood) saya dapat lebih merasakan seperti apakah rasanya jika si aktor tersebut adalah diri saya sendiri.

Sekedar tambahan catatan dari saya : kondisi nyaman saat mengakses gambaran mental inilah merupakan tahapan yang paling menentukan ketika kita ingin mengakses sebuah ekselensi melalui state kita jika ingin melakukan proses modeling. Dasar pemahaman dari prinsip ini sebetulnya sangat sederhana dimana ketika kita mampu merasa nyaman dengan gambaran yang kita buat, maka hal ini akan sangat membantu dalam membentuk perilaku tersebut nantinya.

Setelah saya mampu mendapatkan perasaan atau state nyaman tersebut, kemudian saya tempatkan diri saya dalam gambaran tersebut seolah diri saya sendiri yang menggantikan peran si aktor tersebut. Di sini artinya diri saya (dalam gambaran atau visualisasi) berperan secara penuh persis seperti gaya si “aktor” tersebut.

Hal ini saya lakukan berulang-ulang hingga dalam membuat visualisasi untuk menjadi peran tersebut, saya dapat melakukannya dengan sangat mudah (untuk mengakses gambaran mental tersebut tanpa perlu merasa kesulitan).

Dengan melakukan pengulangan hingga kita merasa sangat kompeten dalam membayangkannya maka tanpa kita sadari pikiran kita akan membentuk sebuah program baru yang akan membantu dalam menciptakan perilaku (yang baru tersebut) seperti yang kita bayangkan tadi.

Teknik ini di NLP disebut sebagai New Behavior Strategy (NBG) yang dikembangkan oleh John Grinder selaku salah satu pencipta dari NLP.

Untuk artikel lain yang membahas tentang aplikasi teknik New Behavior Generatot ini dapat dilihat di sini.

Dan hasilnya? Saat saya harus berperan dalam adegan syuting di acara “Jam Malam” tersebut setidaknya ketika beradu peran dengan pemeran yang lain serta saat berhadapan dengan kamera, setidaknya rasa canggung saya dapat teratasi dan saya-pun dapat ber-akting tanpa memiliki rasa :  “demam kamera”.

Yaa, paling tidak cukup tertantang-lah jika harus berperan pada episode selanjutnya.. Heuheuheu..

Salam,

Totok PDy      

Pin It on Pinterest

Shares
Share This